-
Kemana kamu selama ini? ya kamu. Jangan diam dan melihat-lihat saja dengan mata temaram. Aku disini sendiri dan kesepian. Tak pernah lagi kau mainkan aku sambung-menyambung seperti dulu pun tak kau susun aku satu demi satu. 26 dari kami tak lagi kamu perhatikan. Taukah? kami tidak akan pernah usang untuk menunggumu kembali mengarang.
-
Dulu aku sering membuat tulisan yang diracik bersama bumbu sakit hati.
-
Sudah jarang kutemukan hamparan sungai yang mengalir angan di permukaannya. Berarak mengarus sampai ujung benua sambil menghantar jutaan mimpi. Berwarna pelangi, menyimpulkan senyum bagi siapa saja yang melihatnya. Sungai-sungai itu kini nyaris kering terpapar panas kerasnya dunia. Sedang angan yang ada menguap bersama angin jauh ke langit.
Kuharap kini doa-doa yang dipanjatkan menyatu bersama uap angan kemudian menjelma awan harapan. -
1. Turn your laptop off.
2. Walk outside.
3. Look up into the sky.
4. Realise how small and insignificant you are.
5. Take comfort and joy in the fact that you are a unique, if meaningless, cog in a far greater machine or alternatively that there is nothing yet still you exist.
6. Breathe, Feel, Love, Exist.
7. Do whatever you want with your life, you are a free human being.
8. Stop following instructions on YouTube Videos.
-
aku pernah terjebak di ruang waktu. ketika waktu berjalan maju, aku berhenti.
saat itu aku melihat orang berjalan cepat sekali. sedangkan aku diam berdiri.
aku pernah terjebak di ruang waktu. sekali dulu, jutaan detik sebelum ini.
saat itu kulihat orang berubah cepat sekali. sedang aku hanya menatap iri. -
you said what?
would you stay here any longer, so i can talk to you more and more?
i can’t
you said what?
i said i cant
why?
i have to go
but why, it would be safe and warm if you stay
i have to, so you can have a time missing me
but..
its okay as long as you have me in your heart -
memasuki tumblr dengan langkah malu. aku sudah lama tidak berkunjung kemari, namun pemandangan sepanjang jalan tidak berubah. banyak penghuni baru di sini, banyak pula gaya rumah yang berubah. ah, maafkan aku yang jarang kembali.
-
Andaikan langit ini runtuh dan semua bintang itu jatuh menghujani bumi, tak akan aku ambil yang sinarnya paling terang, akan kuraih yang sinarnya dapat menghangatkan hati
-
macul
Seperti kuliah yg gw ikuti pada umumnya, kuliah subuh pun tidak luput dari tidur saat pembicara mulai menyampaikan materi. Tapi di tengah menuju akhir gw selalu bangun dan mendengarkan.
Kuliah subuh pagi ini temanya adalah menciptakan generasi penerus yang islami. Oke gw nggak ngerti sama sekali awal mula isi kuliah subuh ini bagaimana, gw mulai bangun dan mendengarkan setelah poin kedua dijelaskan, yaitu pada saat “membuat” generasi penerus.Dengan terkantuk-kantuk gw coba mendengarkan apa yang pak udztad itu sampaikan, sambil bertanya-tanya mengapa semua jamaah tertawa-tawa, yang ceramah bukan sule kan?
Pak udztad bertanya “bapak-bapak ibu-ibu dulu pas mau bikin baca doa nggak? Jadi sebelum bapaknya macul dan ibunya dipaculi itu ada doanya! Banyak lho yang nggak tahu tentang hal ini, malah banyak yang bertanya ‘lho apa ada doanya?’ minimal baca bismillah lah”
Gw terdiam melihat uztad itu, trus pak uztad nunjuk satu orang, “coba doanya gimana pak?” bapak itu menjawab dan bener.
Gw heran tapi sekaligus salut sama uztad itu, dia berani ngangkat sesuatu yg orang anggap tabu, dia sempet cerita “aku punya temen, tak ceritain kalo aku nanya doa nggak ke menantuku pas mau macul malah dikatain mertua pekok! Padaha itu bener, kalo enggak doa pas macul, yang mendorong untuk memacul dan dipaculi hanyalah nafsu dorongan setan sambil setan itu berkata ‘teruskan saja biarlah nanti generasi penerusmu menjadi teman-temanku’ soalnya nggak didahului dengan doa sih!”Selanjutnya normal sih, poin-poin selanjutnya yaitu memberi nama dan akikah, menyusui sampai umur 2 tahun, menyunat (laki-laki) dan memberi nafkah sampai dewasa, lalu bersambung.
Yang kocak adalah setelah kuliah usai, yang jamaah bahas adalah tentang “macul” lagi.
Overheard:
Bapak A: “Hayo pak dulu pas bikin doa nggak?”
Bapak B: “Hahaha …”
Bapak A: “Mesti enggak ya pak?”
Bapak C: “Malahan cuma bilang selamet-selamet moga moga selamet ‘Bluss’ ” (nyamber)
Bapak B: “Selamet selamet bluss! hahahaha”
semuanya tertawa. -
A student asked: If the shaytan is locked up during Ramadan, why do we still do bad things? A teacher answered: What happens when you stir a cup of coffee for a long time? After you take the spoon out the coffee continues to stir on its own, right? Shaytan is that stirrer and we are his coffee. Our bad habits continue to stir even when he is away.
alamak ngeri, jangan sampe deh adat adat setan nemplok di jiwa dan hati ini.syalalalaaa
(via thirtydaysflashfast)
-
Halo tumblr, long time no see.

